bulan si mata indah perlahan rebah mainkan delik menarik napas semesta memilin asa mengalir teduh dagunya jatuh di taplak cerah matanya padat, enggan berubah dia menyelidik pada yang membatu dia kini menelikung sesuatu semacam kata, selamat tinggal dia menutup pintu berlalu dengan senyum tak lagi mudah dibaca
::pengakuan
maafkan kesadaranku Kekasih, “pada yang muda dan mudah jatuh soal cinta”. di sini, di hatiku ada darah muda, kembara, dan bintang berkelindan. “tidak, meskipun aku tua bangka dan tuan bau tanah, hasratku sederas Jeneberang, secadas Tinggimoncong” Masih sudikah kau bersamaku ?
Makassar, 09/12/2009


